Accident
Alyssa jatoh dari tangga kemaren.
Ceritanya gini. Setelah ngedrop gue ke kursus bahasa belanda, Jo dan Alyssa pergi ke rumah omanya. Entah gimana kejadiannya, tiba-tiba Alyssa udah jatuh ngegelundung ke bawah dengan posisi muka nyium tanah. Tentu aja, seisi rumah omanya panik. Apalagi waktu ngelihat Alyssa cuma diem aja, dan nggak nangis. FYI, kalau seorang bayi/anak mengalami kecelakaan dan dia nangis, it is much better dibanding kalau dia diem, yang bisa jadi pertanda sesuatu yang serius telah terjadi/anak kehilangan kesadaran. Untungnya, (dasar orang Jawa, anak jatoh dr tangga masih juga untung!) saat itu tantenya alyssa yang kebetulan perawat pas ada disana, jadi dia langsung ngecek semua tanda vital alyssa, kemudian dia dan papanya langsung ngebut bawa alyssa ke UGD. Sepanjang perjalanan, sementara si papa konsentrasi nyetir, si tante duduk di samping alyssa sambil nepuk2, ngajak ngobrol dan sebagainya, buat menjaga alyssa tetep sadar.
Sampai di rumah sakit, Alyssa nangis sedikit, tapi habis itu dia langsung bercanda-canda dengan dokter dan perawat di situ bahkan maik cilukba dengan centilnya. Seperti biasa, dia nggak melewatkan kesempatan untuk menebar pesona, dimanapun, kapanpun! Bahkan, petugas yang nge-rontgen dia sampai kagum banget, kata dia, Alyssa adalah anak pertama yang nurut banget, nggak gerak2, sehingga hasil x-raynya cepet selesai.
Setelah yakin Alyssa gak papa, si tante pergi ke tempat kursus gue buat ngasih tau, dan tentunya gue langsung ‘kabur’ ke rumah sakit. I was so darn panic, but somehow, I just knew, that Alyssa will be perfectly alright, so I tried my best to stay calm.
Di UGD, the first thing Jo told me was, ‘ I lost her sock in the x ray room’. It might sound silly, but I knew he just couldnt think about anything at the moment. So I just smiled and said ‘thats alright’. I have never seen him so pale and so nervous before, not even in our wedding day!!!
It turned out that my instinct was right. Alyssa is ok, except some bruises in her forehead and nose (tambah pesek deh anak gue!). Cuma dokter nyaranin, supaya dia stay di rumah sakit semalem, just in case.
So, we finally ended up spending the night in the hospital, in which by the way, should have been our second anniversary ! Gue ama Jo cuma bisa liat2an, sambil cengengesan, to think that Alyssa will simply do anything to give us an unforgettable anniversary… :p
Namanya kecelakaan, emang gak bisa diduga kapan, dimana, dan gimana kejadiannya. Sejak Alyssa mulai mobile (baca: ngerangkak, jalan, lari, joget2, manjat2, dsb), gue dan jo udah mengamankan seisi penjuru rumah. Our place is child friendly, karena dimana2 udah dipasangin childproofgadgets, dari yang sederhana kayak tongkat buat nahan laci2 biar gak bisa kebuka, sampai yang khusus kita beli di toko kebutuhan bayi.
Eh nggak taunya kejadiannya malah di rumah omanya. Si Jo bolak-balik bilang, kalau dia udah liat pintu ke ruang basement (tempat alyssa jatoh) ketutup, tapi entah gimana caranya (mungkin kucing yang buka), toh pada akhirnya Alyssa bisa ngedorong pintu itu dan langsung ‘terbang melayang’ ke bawah.
But I do believe, everything happened for (at least) one reason.
Mungkin ini cara Tuhan buat ngingetin kami, betapa berharganya Alyssa buat kami.
Atau, seperti yang udah gue bilang barusan, mungkin ini caranya Alyssa buat bikin anniversary papa mamanya menjadi ‘tak terlupakan’.
But whatever the reason is, I’m simply happy that she’s ok.
And now, all i could tell her was:
" Alyssa, Mama tau, Alyssa cantik, baik, ramah, dan cerdas. Mama yakin, kalau Alyssa pasti bisa jadi apapun yang Alyssa mau nantinya. Tapi, satu hal yang Alyssa harus ingat, Alyssa nggak bisa jadi burung… "