i.R.i
Beberapa waktu yang lalu gue chatting dengan seorang teman lama. Kita sering bilang, kalau kita punya banyak kesamaan.
Sama-sama dibesarkan oleh single moms yang super tegar…
Sama-sama jadi ibu muda nan sexy (!)…
Sama-sama punya toddler yang cantik dan seumuran…
Sama-sama punya suami yang berbeda bangsa…
Sama-sama pernah punya karier yang ‘menjanjikan’…
Pokoknya, sama banget deh!
Udah lama sebenernya gue nggak pernah ketemu dia. Sekitar 3-4 tahun kalau gak salah. Tapi karena ibu ini termasuk salah seorang yang rajin nelpon gue (bahkan pernah masakan gue gosong gara2 keasyikan ngobrol ama ini orang, huh!), jadi kita sering curhat2an dan gosip bareng.
Dan pada suatu sore, dengan melepaskan segala keangkuhan dan ego gue (ceile), gue pun bikin suatu pengakuan. Gue bilang ke dia, ‘ Gue iri sama elo’.
Dia balik bertanya, ‘ Iri? Sama gue? Why?’
So I told her, kalau gue ngiri karena dia masih bisa punya karier, sementara karir gue sudah mandeg. Terhempas. Karam.
And of course sebagai teman yang baik, dia mencoba menghibur. Segala blah… blah.. blah.. ucapan tentang betapa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia dan sulit…
She did a good job. I felt better already.
And then she told me…
‘ You know what? I envy you!’
Gue lupa kenapa dia ngiri sama gue. I guess it was something to do with my hubby… That I can spend more time with mine..
The thing is, it makes me think about something.
I R I
Sebuah kata yang sederhana, tapi dalem banget artinya.
Sebuah rasa yang kalau kita biarkan bisa sangat merusak.
Sebuah sifat yang dibenci sama Rasul.
Kenapa yah kita hidup nggak bisa lepas dari iri? Kenapa kita cenderung selalu ingin lebih? kenapa kita terus-terusan ngeliat ke atas? Kapan kita bisa menjadi manusia2 yang selalu berterimakasih dan menerima kondisi kita?
Ah… gue jadi iri dengan orang-orang yang selalu ingat untuk bersyukur sama yang di Atas…