talk about marriage
Banyak teman yang baca blog gue berkomentar ‘hiduplu damai amat sih kayaknya’!
Er..Gue jadi ngerasa perlu ngasih klarifikasi soal ini
Mari kita mulai press conference kita sekarang juga…
ehm.. ehm.. **berdehem mode on**
Dalam 2.5 tahun terakhir ini, hidup gue seperti roller coaster yang bergerak ngebut. Naik, turun, belok, naik lagi, turun lagi, belok lagi…
Bayangin kalau lu harus ngelepas karir lu, menikah, pindah hidup ke negara antah berantah, ninggalin keluarga dan teman-temanlu, hamil, lalu punya anak. Ada lagi beberapa rintangan yang nggak perlu lah gue sebut di sini dan cukup gue bagi dengan Jo aja. Sangat-sangat nggak gampang untuk beradaptasi dengan semua perubahan yang gue alami dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya!
Semua ini bikin gue banyak mikir. Mendewasakan gue (semoga). Membuat gue jadi lebih menghargai hal-hal yang tadinya terlupa untuk diingat.
Untungnya dari awal gue dan Jo udah sadar bahwa ‘marriage is a journey’. Bukan seperti kisah dongeng ala Putri Salju atau Cinderella dimana ketika sang putri dan pangeran menikah, mereka hidup bahagia selamanya…
Ada satu ingatan yang masih terus melekat dalam pikiran gue. Sekitar 3-4 tahun yang lalu, gue dikirim kantor untuk pergi ke Denmark. Di pesawat, gue ketemu sepasang kakek-nenek, yang baru aja menghabiskan liburan ke Thailand, berdua. Mungkin, itu adalah bulan madu yang kesekian kalinya bagi mereka. Kakek-Nenek itu mesraaa banget. Masih jalan bergandengan tangan, masih bermanja-manja..
Sayang, waktu itu gue nggak sempet menanyakan resep mereka. Apa yang bisa bikin cinta mereka masih membara, masih passionate…
Sejak itu gue jadi sering merhatiin pasangan2 suami istri. Dan dari pengamatan gue, jarang banget gue nemuin pasutri di Indonesia yang masih mesra saat sudah berumur. Justru kebanyakan gue menemukan ini di luar negeri, pada pasangan-pasangan bule.
Kenapa mereka bisa begitu dan kita enggak? Siapa yang salah? Apa salah lelaki Indonesia yang kurang romantis dan kurang bisa menghargai perempuan? Atau salah si isteri indonesia yang nggak mampu menghidupkan sisi romantis si suami? Atau mereka berdua terjebak rutinitas sehari-hari? Capek kerja, mengurus anak, lalu lupa mengurus diri mereka dan pasangan masing-masing?
It takes two to tango. Bukan cuma salah satu pihak aja kalau suatu perkawinan menjadi dingin dan garing. Mungkin si suami nggak mampu membuat isteri merasa jadi seorang wanita. Lupa memberi pujian, perhatian dan kemesraan yang didambakan si isteri. Ditambah lagi si isteri terlalu sibuk mengurus anak dan tetek bengek rumah tangga, sehingga dia sendiri lupa mengurus diri dan memberi kehangatan sama suami. Lambat laun, semua kemesraan yang pernah ada jadi terlupakan. Nggak ada tenaga untuk bercanda lagi. Nggak ada waktu lagi untuk memberi kecupan ringan dan pelukan hangat. Nggak ada lagi kata-kata terimakasih antara satu dengan lainnya.. Pernikahan tetap berjalan, tapi tanpa rasa… Hambar!
Banyak kasus yang gue lihat dan gue amati. Dan gue sampai pada satu kesimpulan yang sangat gue percaya. Bahwa pernikahan bagaikan sebuah tanaman. Harus di pupuk, di siram, dirawat, di beri sinar matahari, dan dicegah dari serangan hama.
Itu sih semua orang juga tau! Tapi apa pupuk-nya? Berapa banyak air yang harus disiram, berapa lama harus berada di bawah sinar matahari? Dan bagaimana cara mencegah atau membasmi hamanya?
Well, kalau menurut gue, banyak pernikahan yang jadi hambar setelah sekian tahun.. Setelah semua kebiasaan jadi rutinitas yang membosankan.. Setelah komunikasi jadi mampet.. Setelah kejutan tidak lagi bisa diharapkan.. Setelah masing-masing pasangan menempatkan diri mereka dan pasangan mereka bukan sebagai yang nomer satu lagi..
Urus anak dulu, urus pekerjaan dulu, urus bayaran ini itu, urus pendaftaran sekolah si sulung, urus urusan dapur dulu.. o ya.. jangan lupa nge-vacuum rumah, ambil cucian di dry clean dan ngingetin si Papah untuk cuci mobil…!!!
Akhirnya setelah semua aktivitas menjadi selesai, badan udah lemes dan lesu, maunya langsung peluk guling dan bobo. Nggak ada acara nge-date berdua lagi, nggak ada acara pelukan di sofa sambil nonton tv, nggak ada ciuman selamat malam dan obrolan singkat kala masih jadi pengantin baru: ‘thanks!’, ‘what for?’, ‘for being you’, ..’ehm..’.
Perkawinan gue dan Jo masih seumur jagung. Belum bisa dibuktikan apakah teori gue benar adanya. Pada akhirnya gue hanya bisa berharap. Semoga saja, ‘tanaman’ yang gue miliki bersama Jo, akan selalu mendapat cukup pupuk, air, sinar matahari, dan bebas dari serangan hama…