PoRNOgrAfi
Akhir-akhir ini lagi marak isu soal UU Anti Pornografi di Indo. Banyak milis yang gue ikutin ngebahas soal ini. Buat pekerja seni, tentunya UU ini bikin mereka jadi gerah. Gimana bisa bebas berkarya kalau belum-belum sudah dibatasi?
Sementara itu, beberapa teman gue mengirimkan ajakan untuk mendukung petisi penolakan majalah playboy di Indo plus mendukung UU Anti Pornografi. Tapi maaf, ajakan mereka terpaksa gue abaikan karena gue sendiri kurang paham dengan bahasan masalah ini. Lagian, gue nggak mau mengkhianati teman-teman gue pecinta bokep yang notabene bakal terancam keberadaannya seandainya UU ini jadi disyahkan (btw, dapet salam dari Asia Carrera!)
Hmmm, sebenernya gue heran dengan pemerintah Indo (like always). Kenapa juga baru sekarang ribut-ribut soal ini. Apa gara-gara Mbakyu Inul? Atau gara-gara Playboy mau masuk Indonesia? Atau karena Vcd Bandung Lautan APi?
Walah… telat banget sih pak? Dari dulu yang namanya buku stensilan bertebaran dimana-mana. Dari mulai komik Gareng-Petruk sampai Wiro Sableng. Atau majalah-majalah dan tabloid-tabloid Syuurrr lainnya.
Lucunya, kalau gue boleh ngebandingin dengan Belgia, di sini justru banyak majalah-majalah macam Playboy, Penthouse dsb bertebaran dimana-mana. Di toko buku sebelah apartemen gue aja banyak. Terpajang begitu saja berderetan dengan majalah ‘biasa’ lainnya. Begitu juga di TV. Semua tanpa sensor. Kalau cuma potongan gambar tete ama pantat aja mah biasa!
Tapi anehnya, dinegara yang ’serba terbuka’ ini gue ngerasa jauh lebih aman dari pada di Indonesia. Baik sebagai manusia, sebagai wanita, sebagai ibu.
Tingkat perkosaan jauh lebih rendah.Juga tingkat kriminalitas pada umumnya. Sebagai wanita gue juga ngerasa lebih dihargai. Nggak ada yang iseng suit-suit di jalan. Nggak ada yang pernah nyolek-nyolek gue atau melakukan sexual harassment ke gue selama 2.5 tahun gue hidup disini. Malahan nggak jarang, gue mendapati diri gue dibukakan pintu oleh seorang gentleman, atau dibiarkan lewat terlebih dulu.
Kenapa bisa begini? Atau karena tingkat pendidikan di Belgia yang relatif lebih tinggi dan merata sehingga penduduknya juga lebih ‘behave’? Atau justru karena mereka sudah biasa dengan hal-hal yang dianggap tabu, sehingga mereka gak heboh dan ‘norak’ lagi kalau cuma liat tete doang? Atau moderenisasi mengajarkan mereka untuk lebih menghargai perempuan? Atau faktor hukum yang lebih melindungi kaum perempuan? Atau lebih rendahnya tingkat pengangguran di Belgia dibanding Indonesia sehingga jarang ada orang iseng kurang kerjaan nongkrong-nongkrong yang memancing perbuatan kriminal? Atau perempuan di sini lebih berani unjuk gigi dan melawan ketidakadilan?
Hmmmmpppppfffffff… Gue nggak tau jawabannya. Tapi yang jelas, gue lebih setuju kalau pemerintah berkonsentrasi membuat UU yang lebih jelas maknanya. Misalnya saja, UU yang lebih melindungi kaum Hawa. Memperberat hukuman bagi pemerkosa. Gue rasa ini jauh lebih adil dari pada memenjarakan suami-istri yang berciuman di depan umum. Atau menahan pengarang yang dianggap menulis sesuatu yang berbau porno…
HHmmmmpppppfffffff…