Perempuan Jilid 2
Lagi lagi soal Perempuan…
Beberapa tahun yang lalu di Jakarta, media-media menayangkan sebuah iklan krim pemutih wajah terkenal.
Begini scene-nya: Si wanita menaksir seorang lelaki yang selalu dia lihat dari balik lift setiap pagi, tapi lelaki itu bahkan tidak sadar kalau perempuan tersebut exist. Beberapa minggu setelah si pere menggunakan pemutih wajah tsb, lelaki tersebut tertarik pada si wanita karena dia telihat lebih putih … lalu mengajaknya untuk berkencan. Si wanita senyum tersipu. Bahagia.. karena berhasil merebut hati pria idaman..
Intinya, jadi perempuan harus cantik dan putih, supaya ada laki-laki yang doyan…
Bahkan, seandainya laki-laki itu adalah laki laki yang cetek dan dangkal karena cuma doyan dengan kecantikan dan keputihan si wanita.. gak papa! Si wanita tetap hepi. Yang penting dia ‘laku’.
Iklan itu bikin gue gregetan banget. Segitu doang kah nilai seorang perempuan? Harus cantik. Terlihat indah. Sempurna. Kalau perlu, gak banyak omong. Kayak benda pajangan.
Akhirnya, berapa banyak wanita jadi korban? Menghabiskan banyak uang, waktu, energi, dan menanggung resiko dan demi memenuhi standar pasar. Beli make up termahal, diet habis-habisan, menelan pil-pil pelangsing tubuh yang bikin mencret dan lemes, berolahraga mati-matian, memakai pemutih wajah yang mengandung merkuri, bahkan berbaring di meja operasi untuk prosedur bedah plastik…
Standar kecantikan pun semakin gak masuk akal. Semua berlomba-lomba pengen secantik dan seramping bintang sinetron atau model di majalah. Padahal mereka gak nyadar, kalau para bintang itu bisa tampil sempurna karena mereka menghabiskan banyak waktu, energi dan uang buat menyewa personal trainer, dietist, make-up artist,stylist, dsb. Sesuatu yang gak dipunyai orang biasa seperti kita. (Gue sih gak keberatan olahraga 3 jam tiap hari dengan personal trainer, cuma pertanyaannya, siapa yang bakal jagain alyssa, masak dan bersihiin rumah selama 3 jam itu? Terus mau dibayar pake apa itu si pelatih? Pake daun?)
Tapi terlepas dari itu semua, teteup.. yang namanya perempuan harus cantik. Sebelum menikah, perempuan harus cantik buat menarik perhatian lawan jenis. Setelah menikah, perempuan tetep harus cantik demi menyenangkan sang suami, sekaligus menjaga agar dia tidak kabur bersama perempuan lain yang lebih cantik…
AH…
Tidak ada yang pernah bilang bahwa wanita harus cantik kalau dia memang ingin terlihat cantik… Kecuali beberapa gelintir manusia.
Gue pernah bertanya pada Jo. Do you want me to always dress up for you?. He gave me a funny look. What? Then I asked again. Do you think I need to go on a diet? He said no. Then he said (in a more complete sentence), bahwa terserah gue, mau diet atau mau pake daster buluk tiap hari, atau full make up on with fancy dress… the most important thing is, I have to feel comfortable with the way I look.
So I guess I’m blessed. Hidup dalam dunia penuh tuntutan tapi at least my partner is wise enough to ease some of the pressures.
Yang juga sedikit melegakan adalah beberapa kosmetik yang mulai beriklan dengan ‘baik dan benar’. Seperti Loreal dengan slogan nya ‘because you worth it’. Dari dulu gue senang dengan slogan ini, karena menekankan kalau kamu mau dandan, dandanlah karena kamu mau, karena kamu ingin.. karena kamu beharga. Bukan (cuma) untuk orang lain. Juga Dove yang baru baru ini sibuk dengan campaign for real beautynya. Menggambarkan kecantikan wanita yang berbeda-beda. Tidak stereotype. Tidak harus putih, mulus, hidung mancung, bibir merah, rambut panjang, halus, lurus, kaki panjang, pinggang ramping buahdada montok.
Gue cuma bisa berharap, semoga masyarakat akan semakin bijak dalam memandang arti kecantikan dan menghargai perempuan secara lebih luas lagi. Sehingga jika Alyssa besar nanti, dia dapat tumbuh dalam lingkungan yang menghargainya sebagai individu, bukan sebagai mahkluk yang harus selalu tampil sempurna…