Perempuan
Hari Rabu kemaren, seperti biasa, gue chatting dengan temen-temen di Indonesia. Bedanya, kali ini kita nggak cuma gossip dan ngomong jorok doang, tapi kita ngebahas masalah yang lebih dalem lagi yaitu soal… SINETRON!
Eits, jangan salah! Diskusi kita kali ini lumayan berbobot. Beneran!
Bermula dari keluhan seorang teman tentang betapa nggak bermutunya sinetron Indonesia sekarang ini. Yang lebih merisaukan lagi, sinetron-sinetron tersebut bertemakan ‘hidayah’. Berbau agama. Bersifat ‘mendidik’. Dan sebagainya dan sebagainya.
Dari judulnya aja, gue udah merinding dengernya. ‘Istri untuk suamiku’, ‘Surga di telapak kaki suami’, (cmiiw) dst. Ceritanya lebih menyeramkan. Seorang istri yang harus merelakan dirinya untuk dimadu, sampai-sampai dia mau melamarkan wanita lain tersebut untuk si suami.
WADUH!
Gue nggak mau membahas soal halal tidaknya poligami dalam agama Islam. Gue sadar, gue bukan ahli dalam bidang ini. Ilmu gue sangat cetek. Belum pantes ngebahas mana yang boleh dan mana yang gak boleh.
Yang gue sayangkan, kenapa masalah poligami sepertinya semakin sering digembar-gemborkan akhir-akhir ini. Dipropagandakan. Seakan, ada kesan, bahwa istri yang baik dan soleha wajib membahagiakan suaminya, dengan cara menuruti keinginan sang suami, apapun bentuknya (termasuk merelakan sang suami, untuk dibagi dengan wanita lain).
Pertanyaan gue, kenapa cuma kewajiban perempuan doang yang selalu diributkan? Kenapa selalu ada double standard antara lelaki dan perempuan? Kenapa wanita harus selalu diposisikan sebagai kaum yang kalah?
Coba kita lihat.
Kalau lelaki punya banyak pacar (atau bahkan istri), itu dianggap sebagai simbol status. Kebanggan pribadi. Jantan. Playboy. Macho.
Giliran perempuan yang punya banyak gandengan.. dibilang perek. Piala bergilir. Murahan.
Kalau lelaki bersifat ambisius dan kekeuh menggapai cita-citanya, orang akan kagum. Itu tanda lelaki yang hebat. Sementara kalau ada perempuan yang mencoba untuk fight dan bersikap sedikit keras, nggak jarang orang akan menganggap si perempuan sebagai.. Bitchy. Nggak tau diri. Nggak tau tempatnya! Perempuan kok begitu…
Intinya, kalau mau dicap jadi perempuan baik baik itu, ya harus selalu ngalah, nrimo, manut. Ojo neka neko.
Menyedihkan.
Balik lagi ke topik awal. Soal poligami.. dan sinetron..
Apa maksudnya sih bikin sinetron begitu? Apakah untuk ‘mendidik’ perempuan di Indonesia supaya lebih menurut? Apa si pembuat sinetron ketakutan dengan semakin banyaknya wanita cerdas di Indo, sehingga menganggap perlu untuk membuat sinetron yang besifat membodohi seperti itu? Atau justru ini permintaan pasar? Kalau benar begitu.. menakutkan sekali…
Seorang teman yang non muslim berkata.. ‘Di agamaku, posisi wanita lebih dihormati’. Dari perkataannya, bisa disimpulkan bahwa dia menganggap wanita di Islam berposisi lebih rendah daripada pria. Gue nggak bisa nyalahin dia, karena kalau kita lihat sekilas, memang begitu kelihatannya. Tapi menurut gue, bukan agamanya yang salah. Tapi manusia-manusianya. Yang menjalankan, yang mengintepretasikan, dan menelaah apa yang tertulis di kitab suci. Bahkan nggak jarang, adat istiadat ikut terbaur dan dianggap sebagai ajaran agama. Hal ini dialami oleh agama manapun, Islam, Kristen, dsb.
Yang gue ingat, saat gue menikah secara Islam 2.5 tahun yang lalu.. Gue justru merasa sangat terlindungi sebagai wanita dan istri. Gue ingat dengan jelas bagaimana kang mas JO harus terpatah-patah membaca selembar kertas HVS penuh yang intinya berjanji bahwa dia akan berusaha memenuhi kewajiban dia sebagai suami untuk menafkahi gue lahir batin, menghormati gue, dan tidak menganiaya gue.
Hmmh, berat kalau ngomongin hal yang seperti ini. Tapi untungnya, Kang Mas gue sama sekali tidak setuju untuk berpoligami. Kata dia, ngurus 2 perempuan high maintenance macem gue dan alyssa aja udah ngabis-ngabisin duit dan tenaga… gimana bisa kawin lagi! Hihihi..