The Bad Mother vs The Perfect Mother
Akhir-akhir ini, media banyak menyorot soal mbak Britney Spears yang di sebut-sebut sebagai ibu yang tidak baik karena ‘menjatuhkan’ bayi nya sendiri. Lalu mereka ramai-ramai menampilkan foto si mbak Brit yang sedang menggendong anaknya dengan posisi seperti hampir jatuh..
Oh please….
Kesian bener gue ngeliat si mbak Brit itu.
Ibu mana sih yang seneng dihakimi soal caranya membesarkan anak? Lagian namanya anak, wajar lah kalau jatuh atau hampir jatuh. Di gue sendiri, udah nggak kehitung berapa kali Neng AL jatuh, kejedut, kepentok, kesandung, kejepit dan sebagainya…
Menurut gue, nggak ada seorang pun yang berhak menilai dan menghakimi cara orang tua membesarkan anaknya, kecuali badan sosial, hakim dan polisi untuk kasus-kasus tertentu. Itu pun gak boleh sembarangan dan harus jelas prosedurnya.
Pada akhirnya timbulah suatu pertanyaan.
Apakah kriteria seorang ibu/ortu yang baik?
Apakah yang selalu siap mendampingi dan menolong si anak? Atau justru yang tega dan rela ‘melepaskan’ si anak mencari jalan hidupnya sendiri? Atau yang selalu waspada, tidak pernah lengah menjaga si anak agar terhindar dari bahaya?
Bulan lalu, gue membaca suatu artikel di majalah berjudul The Perfect Mother. Di situ ditulis pengakuan si ibu yang teramat ingin menjadi SUPERMOM. Dia selalu ada untuk anaknya. Sejak bayi, tidak pernah dia biarkan anaknya menangis sedikit saja. Dia hanya pergi keluar rumah untuk keperluan yang sangat mendesak. Semua dia curahkan untuk anaknya.
Sang bayi beranjak menjadi balita. Balita beranjak menjadi seorang gadis berumur 6 tahun. Ketika si anak masih toddler, si ibu dengan bangganya memamerkan kedekatan hubungan ibu-anak mereka. Dia tidak menyadari, bahwa dia satu-satunya ibu yang harus menunggui anaknya di playgroup atau taman bermain.
Semakin lama, mulai timbul sindrom-sindrom aneh yang dialami si kecil. Compulsive Disorder. Juga, ketergantungan si anak pada ibu semakin menjadi-jadi. Untung akhirnya si ibu menyadarai ‘kesalahannya’ dan membawa si anak ke psikiater.
Sang ibupun terenyak. Semua yang dia lakukan selama ini— pengorbanan-nya, dedikasinya, didikannya— justru menjadi bumerang. Dia mengira bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah ‘demi memenuhi kebutuhan anak’,padahal justru sebaliknya, dia memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan dia untuk dekat dengan anak, kebutuhan dia untuk merasa dibutuhkan, kebutuhan dia untuk menghilangkan perasaan bersalahnya, kebutuhan dia untuk mengkompensasikan apa yang selama ini tidak dia dapat kan dari orang tuanya pada si anak.
Sunggu suatu pelajaran yang mahal. Tapi gue bersyukur dia mau membagi pengalamannya itu. Dia membuka mata ibu-ibu lainnya untuk menyadari bahwa kita harus mampu bersikap bijak dalam mengidentifikasi kebutuhan si anak.
Satu lagi pelajaran yang gue dapatkan dari si ibu tersebut adalah, membiarkan si anak tumbuh besar dengan merasakan berbagai emosi dan situasi berbeda. Bahwa satu-satunya cara kita mampu menghandle rasa frustasi, kesedihan dan ke sepian, adalah dengan merasakan dulu semua rasa itu. Seorang anak tidak harus melulu merasakan kenyamanan dan kemudahan dari keberadaan seorang ibu. Karena suka tidak suka, mau tidak mau… here is the bitter fact… We cant always be there for them.
Si ibu mungkin tidak berhasil menjadi supermom yang diaidamkan.. tapi at least, dia mau mengakui kesalahannya dan membuka matanya untuk merubah caranya dalam membesarkan si anak.
Di artikel lain di majalah yang sama, gantian para anak menceritakan pengalaman paling berharga mereka, yang didapat dari si ibu. Seorang anak berkata ‘She thought me how to fly’. Dia bercerita betapa ibunya dengan ‘tega’ mengirimkan dia ke sekolah berasrama saat dia masih kecil, tidak peduli dengan segala protes si anak. Awalnya sulit buat si anak (juga si ibu) menerima keadaan dan beradaptasi pada lingkungan baru, jauh dari mama dan keluarga. Tapi akhirnya, si anak jatuh cinta, banyak belajar dan menimba pengalaman selama berada di sekolah itu. Dia bersyukur, ibunya membiarkan dia untuk ‘terbang’…
Pikiran gue melayang ke nyokap gue sendiri. Beliau juga merelakan gue untuk ‘terbang’. Sebagai ibu dari anak satu-satunya, tentu berat buat buatnya melepas kepergian gue ke Belgia dua setengah tahun yang lalu. Tapi beliau sadar, bahwa inilah jalan hidup yang gue pilih. Seandainya dia tidak merelakan gue untuk menjalani pilihan gue, apa jadinya gue sekarang? Mungkin gue masih di Jakarta, meratapi cinta gue yang hilang (duileh.. )…
So, I thank her for that. I feel blessed to have her as my mom. I hope someday, Alyssa can feel the same way about me as her mother…