Four Seasons in Belgium

My life in… duh, of course Belgium !!!! And for YOU, readers, You are invited to post your comments here… But Please, DONT COPY PASTE!!! NO MORE PIRACY, unless you got my permission to do so!!!! Enjoy reading!!

GeNGsi

Filed under: My crazy thoughts — inifanny at 12:37 am on Monday, July 31, 2006

Sebulan lebih nggak ngeblog, bikin gue napsu… hehehe
Napsu nulis lagi maksudnya!
Postingan kali ini pun sebenernya masih nyambung dengan postingan gue berjudul Jakarta oh Jakarta… (Kan postingan bersambung lagi ngetrend sekarang.. !!!)

Aniwei, sebenernya cerita di Jakarta oh Jakarta itu adalah keluh kesah gue tentang betapa pentingnya arti sebuah status di Jakarta. Cuma berhubung pas nulis gw masih rada2 jetleg, jadi nggak nyambung gitu deh!

Well, secara gue udah 2.5 tahun idup di Belgie, gue jadi punya privillege untuk melihat dan mengamati perbedaan gaya hidup masyarakat eropa (pada umumnya) dibanding dengan masyarakat asia (khususnya dalam hal ini Indo or Jkt).

Selama gue hidup di Belgie, gue udah terbiasa dengan gaya kasual masyarakat di sini, yang santai dan relax abis. Gue nggak merasakan tuntutan untuk ‘tampil keren dan (terlihat) kaya’, seperti di saat gue di Jakarta.

Sering, gue ngobrol dengan beberapa teman, atau membaca blog beberapa orang, dan gue suka nyengir sendiri mendapati acara obrolan atau postingan yang penuh jadi ajang pamer! Sempat gue berpikir ‘Ih.. norak banget yah?’ hahaha!!

Kayaknya, ada kecenderungan masyarakat Indo untuk bilang (misalnya), "Kita pergi pakai mercy-ku aja yuk" instead of "Kita pergi pakai mobil-ku" atau "Bayarnya pake gold card aja yah" instead of "aku aja yang bayar". Tentunya gak semua masyarakat Indo begini yah. Inget, gue bicara in general.. and for the record, I’m still an Indonesian my self.

In short, kebutuhan untuk diakui dan dianggap memiliki status dan kedudukan sosial yang baik itu sangat-sangat penting buat sebagian besar orang Indo. Kenapa yah? Apa karena gap yang segitu dalemnya antara si kaya dan si miskin? Atau karena budaya feodal yang masih melekat erat di darah kita? Bahwa hanya orang yang berstatus sosial lebih tinggi yang berhak mendapat pelayanan istimewa? Ah.. menyedihkan sekali.

Memang, hal seperti ini gak cuma berlaku di Indo. Pas gue di boarding room di Malaysia menunggu masuk pesawat ke Indo sebulan yang lalu, penumpang kelas bisnis pun dipersilahkan memasuki pesawat terlebih dahulu. Ini hal yang biasa. Tapi celetukan seseorang dibelakang gue bikin gue tersenyum dan berpikir lebih jauh. Dia bilang "Yah, emang kalau orang kaya, dapet perlakuan beda terus… Gimana si kaya dan si miskin gak jadi berantem terus?"

Hahaha… He’s got a point!!!

Sebelumnya gue sempat mikir, betapa shallow-nya orang2 yang sangat mementingkan status, penampilan dan kekayaan diatas segalanya.. Tapi gue sekarang berpikir.. Hmm.. maybe it is really necessary. Seenggaknya jika kamu hidup di Jakarta/Indo. Kalau kamu nggak terlihat ‘penting dan kaya’… maka orang akan memandang kamu sebelah mata… Mending kalau sebelah mata, lah kalau sambil merem! hahahaa

Di beberapa aspek, Jakarta emang jauh lebih glamour dan ‘berkelip’ di banding Belgia, yang termasuk salah satu negara terkaya dunia (kesebelas) . Lucu kalau dipikir, karena Indonesia kan negara dunia ketiga (sakit hati nggak sih?). Ironis banget yah, di negara yang katanya miskin ini, justru banyak banget kita temui orang-orang yang petantang petenteng dengan baju Dior, tas Hermes.. dll.. Bahkan gue dapat bocoran bahwa salah satu produsen tas terkemuka mengeluarkan koleksi special editionnya yang hanya berjumlah 50 buah.. Dan coba tebak, 5 dari kelimapuluh tas itu sudah dipesan oleh orang Indo.. Rumour has it, kalau harganya mencapai 2Milyar Rupiah pertas… Hohoho!!!
Mau dipake kemana yah tas semahal itu?

Bicara soal tas, benda satu ini emang bisa jadi pendongkrak status yang efektif, sampai2 di Jakarta, kita bisa temukan penyewaan tas ekslusif. Di sana, kita bisa nyewa tas2 mahal dengan harga sewa antara 135 rebu sampai 2.5 jeti perhari pertas. Jujur, gue salut buat duo wanita pengusaha persewaan tas yang jeli banget ngeliat peluang bisnis ini. Bener apa kata oom gue dulu: "Di Jakarta, apa sih yang gak bisa dibisnisin? ‘ :))

Tapi tetep, gue berharap, gue nggak akan pernah memerlukan jasa mereka buat menyewa tas mahal… Semoga gue bisa tetep happy dan bangga menjadi diri gue sendiri. Kalau memang kemampuan gue baru sebatas tas Esprit segede karung yang gue bawa kemana2 atau tas keluaran Mango atau Tajur… yah Why not? Iya nggak…?

Hahahaha

Foto Foto Neng AL

Filed under: My daily life — inifanny at 11:30 am on Sunday, July 30, 2006

Buat temen2 yang kemaren nanya foto2 gue di Jakarta, check di Photoalbums sebelah, di folder Jakarta2006…
Itu foto2 Neng AL sebelum dan selama liburan kemaren..
Enjoy!!!

Jakarta oh Jakarta

Filed under: My crazy thoughts — inifanny at 7:37 am on Friday, July 28, 2006

Dua tahun lebih meninggalkan Jakarta, sempat membuat gue lupa akan betapa materialistisnya kota ini.
Di hari kedua gue tiba di sana, gue pergi ke Pondok Indah Mall 2 bersama keluarga. Jujur, gue sedikt kaget melihat banyak nya butik mewah di sana. Apalagi waktu gue melihat selembar kaus oblong tipis yang biasa banget seharga lebih dari setengah juta rupiah.
    Hah? katanya Indonesia lagi krisis?

Harga segitu, untuk selembar kaus yang begitu doang, sudah tergolong sangat mahal. Bahkan untuk ukuran Eropa.
Hati gue tambah ciut ngeliat beberapa anak abege yang asyik menenteng HP yang harganya pasti lebih di atas 3 juta rupiah… Gue langsung membayangkan penampilan gue hari itu yang cuma pake tshirt seharga 30 rebu (tapi lebih keren dari kaos-oblong-setengah-jeti itu), rok hitam, kalung panjang, dan sendal bali. Plus, keringet yang ngucur karena… Jakarta panas bo! hehehehe

Bohong kalau gue bilang gue nggak sedikit minder…
Gue lupa, betapa penampilan, status, dan duit sangat ‘berbicara’ di kota yang pernah gue diami selama hampir seperempat abad itu.
   Ah, you wont feel good if you dont look good! Ini Jakarta, Mbak!!!!

Beberapa hari kemudian, gue pergi ke PS bersama Jo untuk mencari lokasi perayaan ultah neng AL. Memasuki PS dari Sogo dengan terengah-engah dan keringat mengucur (karena taxi gue mati ac-nya dan siang itu jakarta lagi luar biasa panas dan macet), gue minta ijin Mas JO mampir ke counter Clinique buat beli bedak. ‘Five minutes’ jawab dia, galak.

Jadilah gue berlari-lari, masih sambil ngos-ngosan dan keringetan hinggap di counter cosmetic itu. ‘Mas, mau beli bedak taburnya dong’ kata gue ngebut (five minutes is five minutes, you know?), sementara jo nungguin gue sambil cemberut di depan sogo deket hagen daz. Si mas itu menatap gue dengan pandangan -wait-let-me-decide-whether-you-are-the-kind-of-person-who-can-afford-my-products-or-you-just-wanna-waste-my-time-without-buying-anything. Setelah menatap gue dari ujung rambut sampai kaki, akhirnya dia memutuskan bahwa gue cukup pantas untuk dilayani. Dengan gaya kemayu dia mulai menawarkan bermacam warna bedak plus eyeshadow dan eyeliner.. dan memoleskannya pada mata gue. Tapi aduh! Kok si mas rada2 BM yah? Duh, Mas, kalau mau molesin make up ke wajah customer.. mbok yah sikat gigi dulu dong… Akhirnya gue cepet2 kabur dan membayar bedak dengan mata kanan terpoles eyeshadow warna lilac, sementara mata kiri warna coklat… HUH!!!!

But still, dengan segala kemewahan, kekumuhan, kesremawutan, bahkan sekarang ditambah dengan ancaman gempa dan tsunami-nya.. Jakarta is still my favourite city. Jakarta adalah cinta pertama gue… Yang akan selalu gue kangenin.

See you next year, Love!

Yang udah baca ngacung!

Filed under: About my book/writing — inifanny at 10:20 pm on Thursday, July 27, 2006

Gimana?
Udah baca FSiB?
Any comment? Japri gue yah…

Yang belum beli FSiB… cepetan lari ke Gramedia.. dan beli selusin!  :))

Cover_3

Four Seasons In Belgium -Cover, Blurbs, Sinopsis

Filed under: About my book/writing — inifanny at 6:33 am on Tuesday, July 18, 2006

Cover_2

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (METROPOP)
ISBN 979-22-2262-6
Harga : RP. 35.000,-

BLURBS:

" Cerdas,segar dan menyentuh..bukan sebuah tema yang baru namun diolah dengan bahasa yang jernih dan plot yang mengalir lancar, menandakan kualitas penulisnya yang memahami dunia wanita bekerja dan permasalahannya."
(Dian Sastrowardoyo,pekerja seni)

"Selama ini, terus terang, saya tidak pernah punya keinginan utk baca ciklit. Tp pas baca Four Seasons in Belgium saya kebawa banget, gak sabar utk tau akhirnya bagaimana. Seru ! Thx ya Fan, you’ve opened up my eyes.."
(Tina Zakaria, presenter)

"Wow..All in one banget dech !!! Padahal Cuma baca doang tapi imajinasiku terhanyut dengan petualangan ceritanya, brasa jalan-jalan dan punya teman baru. Nuansa Eropa yang digambarkan dalam cerita bikin aku ngerasa pernah tinggal disana ( padahal gak sih..he..he..he..) dan ditambah dengan gaya bahasa ‘anak sekarang, jadi gak brasa bacanya walaupun novelnya cukup tebal..justru aku ketagihan kayak makan kacang….ha..ha..ha..gak mau berhenti…Aku tunggu lho novel berikutnya….Sukses ya Fanny.."
(Mona Ratuliu, artis)

"A well written debut. Fanny membangun tokoh yang sangat manusiawi dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Fanny juga berhasil -di setiap halaman yang dibuka- memberikan emosi yang berbeda, cerita yang terajut baik dan ending yang tidak disangka-sangka. Congrats Fan! "
(Adhitya Mulya,Novelis ‘Jomblo’)

Fanny Hartanti adalah penulis yang bisa membuat hati saya bersemi ketika membaca novel pertamanya, Four Seasons in Belgium. Selain diajak berjalan-jalan menyusuri indahnya Antwerp, saya juga dikenalkan dengan seorang perempuan twenty-something bernama Andin yang berkarir di kota yang sama. Hidup di luar negeri memang tough. Apalagi ketika harapan dihadapkan dengan pilihan atas nama cinta. Tapi yang pasti, siapapun yang membaca novel ini akan bersemi seperti saya karena Andin memberi inspirasi bagi banyak orang.
(Ninit Yunita, Novelis)

"Karya pertama Fanny Hartanti menggambarkan seorang wanita yang kita semua idamkan: cantik, pintar, penuh karisma dan percaya diri, dan teguh dengan ke-Indonesiaannya walaupun jauh dari tanah air. Gaya tulis Fanny yang ringan dan santai menyimpan humor yang tajam, cerdas dan blak-blakan, yang membuat saya susah berhenti membacanya. Top!"
(Stibniati Atmadja, PhD Candidate-USA)

SINOPSIS

Jadi perempuan memang susah ! Terkadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang berat. Lelaki ganteng tapi bego atau yang tajir tapi kampungan ?Lipstick warna natural atau merah darah ? Pilih anak atau karier ?
Bagaimana kalau seorang anak tiba-tiba saja hadir tanpa diundang ? Memporak-porandakan semua mimpi yang sudah dibangun dengan susah payah selama ini ?
Huh ! Kenapa sih selalu wanita yang jadi korban ?
Tapi eits, jangan mau dong jadi korban ! Masih ada kok pilihan-pilihan yang bisa dibuat. Namun pertanyaannya bukan cuma sebatas bagaimana menentukan pilihan,melainkan lebih pada bagaimana cara menjalani hidup sesuai dengan keputusan yang sudah kita buat, dengan kepala tegak. Tentu nggak semudah membalikan telapak tangan…
Perkenalkan Dewi Andini, alias Andin. Tipikal wanita muda masa kini. Cantik, cerdas, energik dan ambisius.
Saat mendapat kesempatan bekerja di Belgia, hidupnya terasa sempurna. Karier mantap, kekasih yang cerdas sekaligus tampan, sahabat-sahabat setia, dan kesempatan berkunjung ke negara-negara Eropa tetangga.
Tapi itu semua tak berlangsung lama. Begitu Andin menyadari dirinya hamil, dunia terasa runtuh…

Lalu apa yang harus Andin lakukan?