Jakarta oh Jakarta
Dua tahun lebih meninggalkan Jakarta, sempat membuat gue lupa akan betapa materialistisnya kota ini.
Di hari kedua gue tiba di sana, gue pergi ke Pondok Indah Mall 2 bersama keluarga. Jujur, gue sedikt kaget melihat banyak nya butik mewah di sana. Apalagi waktu gue melihat selembar kaus oblong tipis yang biasa banget seharga lebih dari setengah juta rupiah.
Hah? katanya Indonesia lagi krisis?
Harga segitu, untuk selembar kaus yang begitu doang, sudah tergolong sangat mahal. Bahkan untuk ukuran Eropa.
Hati gue tambah ciut ngeliat beberapa anak abege yang asyik menenteng HP yang harganya pasti lebih di atas 3 juta rupiah… Gue langsung membayangkan penampilan gue hari itu yang cuma pake tshirt seharga 30 rebu (tapi lebih keren dari kaos-oblong-setengah-jeti itu), rok hitam, kalung panjang, dan sendal bali. Plus, keringet yang ngucur karena… Jakarta panas bo! hehehehe
Bohong kalau gue bilang gue nggak sedikit minder…
Gue lupa, betapa penampilan, status, dan duit sangat ‘berbicara’ di kota yang pernah gue diami selama hampir seperempat abad itu.
Ah, you wont feel good if you dont look good! Ini Jakarta, Mbak!!!!
Beberapa hari kemudian, gue pergi ke PS bersama Jo untuk mencari lokasi perayaan ultah neng AL. Memasuki PS dari Sogo dengan terengah-engah dan keringat mengucur (karena taxi gue mati ac-nya dan siang itu jakarta lagi luar biasa panas dan macet), gue minta ijin Mas JO mampir ke counter Clinique buat beli bedak. ‘Five minutes’ jawab dia, galak.
Jadilah gue berlari-lari, masih sambil ngos-ngosan dan keringetan hinggap di counter cosmetic itu. ‘Mas, mau beli bedak taburnya dong’ kata gue ngebut (five minutes is five minutes, you know?), sementara jo nungguin gue sambil cemberut di depan sogo deket hagen daz. Si mas itu menatap gue dengan pandangan -wait-let-me-decide-whether-you-are-the-kind-of-person-who-can-afford-my-products-or-you-just-wanna-waste-my-time-without-buying-anything. Setelah menatap gue dari ujung rambut sampai kaki, akhirnya dia memutuskan bahwa gue cukup pantas untuk dilayani. Dengan gaya kemayu dia mulai menawarkan bermacam warna bedak plus eyeshadow dan eyeliner.. dan memoleskannya pada mata gue. Tapi aduh! Kok si mas rada2 BM yah? Duh, Mas, kalau mau molesin make up ke wajah customer.. mbok yah sikat gigi dulu dong… Akhirnya gue cepet2 kabur dan membayar bedak dengan mata kanan terpoles eyeshadow warna lilac, sementara mata kiri warna coklat… HUH!!!!
But still, dengan segala kemewahan, kekumuhan, kesremawutan, bahkan sekarang ditambah dengan ancaman gempa dan tsunami-nya.. Jakarta is still my favourite city. Jakarta adalah cinta pertama gue… Yang akan selalu gue kangenin.
See you next year, Love!